Bung Karno, Mossadegh, Tuduhan Komunis dan Keterlibatan CIA

Bung Karno, Mossadegh, Tuduhan Komunis dan Keterlibatan CIA

Esai:

Bung Karno, Mossadegh, Tuduhan Komunis dan Keterlibatan CIA
Oleh Guntur Romli

Dalam tulisan seblum ini: “Operasi CIA di Iran 1953” ada yang komentar: Kok perjalanan politik dan akhir hidup Mossadegh di Iran mirip dengan Bung Karno di Indonesia?

Respon saya: Benar sekali. Dua nama, satu takdir, dan disingkirkan satu musuh yang sama.

Mossadegh di Teheran dan Bung Karno di Jakarta adalah dua raksasa nasionalisme yang mencoba berdiri tegak di atas kaki sendiri, namun akhirnya dipatahkan oleh tangan-tangan gelap yang sama: operasi intelejen AS: CIA.

Keduanya tak pernah bersua secara fisik. Tapi ditautkan kesamaan ideologi, prinsip dan gairah cinta pada rakyatnya.

Bung Karno dan Mossadegh adalah personifikasi dari harga diri bangsa yang baru bangun dari lelap kolonialisme.

“Dosa” mereka di mata Barat identik: Nasionalisme Ekonomi. Tuduhan penyingkirannya juga sama: Pro Komunis.

Hakikatnya keduanya menolak konsep kemerdekaan yang hanya bersifat seremonial atau sebatas pergantian bendera.

Bagi mereka, kemerdekaan sejati wajib berarti kedaulatan atas kekayaan alam.

Prinsip utama yang mengikat mereka adalah nasionalisasi. Mossadegh mengguncang dunia saat merebut minyak Iran dari tangan Inggris tahun 1951, sebuah tindakan yang ia sebut sebagai hak asasi bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri.

Spirit ini setali tiga uang dgn prinsip Berdiri di Atas Kaki Sendiri (Berdikari) dari Bung Karno dalam Tri Sakti: Berdaulat dalam Politik, Berdikari dalam Ekonomi dan Berkepribadian dalam Kebudayaan.

Bung Karno melihat nasionalisasi bukan sekadar aksi ekonomi, melainkan alat untuk memutus rantai imperialisme yang ia sebut sebagai Nekolim (Neokolonialisme dan Imperialisme).

Saat itu Bung Karno dengan lantang berteriak: “Go to hell with your aid!”

​Keduanya memandang Barat bukan datang sebagai mitra dagang, melainkan “predator ekonomi” yang menawarkan modal dan investasi tapi untuk menjajah kembali.

Persamaan prinsip ini membuat mereka dituduh sebagai “anomali politik” yang berbahaya bagi tatanan dunia yang dikuasai Barat.

Bagi Washington, kedua pemimpin ini bukan sekadar pemimpin politik: mereka adalah ancaman eksistensial terhadap tatanan kapitalisme global. Maka, mesin penghancur yang sama dikerahkan.

Keduanya dituduh memberi ruang pada komunisme: Mossadegh dengan partai Tudeh dan Bung Karno dengan PKI.

Di Iran, CIA melancarkan Operasi Ajax (1953) menggunakan uang suap dan kerusuhan buatan untuk menjatuhkan Mossadegh.

Di Indonesia, pola serupa terlihat dalam keterlibatan CIA pada pemberontakan PRRI/Permesta hingga puncaknya pada huru-hara 1965 yang melengserkan Sang Putra Fajar.

Bung Karno dan Mossadegh sama-sama memegang teguh keyakinan bahwa selama sumber daya strategis—baik itu minyak di Iran maupun kekayaan bumi Indonesia—jika masih dikendalikan oleh kekuatan asing, maka kemerdekaan hanyalah ilusi.

Berakhir dalam Sepi

Tragedi paling menyayat hati adalah bagaimana akhir hidup kedua singa ini.

Setelah dikudeta, Mossadegh menghabiskan sisa hidupnya dalam tahanan rumah di Ahmadabad hingga wafat pada 1967. Ia dilarang berbicara dengan rakyatnya sendiri.

Nasib Bung Karno juga sama. Sang Proklamator yang memerdekakan bangsanya justru menjadi tahanan politik di Wisma Yaso. Dalam kondisi sakit dan terisolasi, ia meninggal pada 1970 tanpa penghormatan yang layak dari rezim yang meng-“kudeta”-nya.

Bung Karno dan Mossadegh adalah pelajaran sejarah yang sangat bernilai: bahwa di panggung dunia yang kejam, kecintaan yang terlampau besar pada kedaulatan bangsa seringkali harus dibayar dengan kesunyian di balik jeruji besi.

Mereka wafat dalam kesepian dan keterasingan di negeri yang mereka sangat cintai, namun mereka hidup abadi sebagai martir dalam ingatan setiap bangsa yang menolak berlutut dan tunduk. ***)

Posted: sarinahnews.com
Jakarta, 12 Maret 2026
Sumber WAG:
Author: Guntur Romli Pengamat Sosial Politik