“Kitab MA HA IS MA YA” Fenomena Peradaban Global Dalam Siklus 7 Abad ke-4

“Kitab MA HA IS MA YA” Fenomena Peradaban Global Dalam Siklus 7 Abad ke-4

Kitab MA HA IS MA YA” Fenomena Peradaban Global Dalam Siklus 7 Abad ke-4
Oleh Jacob Ereste

Diskusi yang mengacu pada “Kitab MA HA IS MA YA” digelar pada 21 September 2026. Kitab tersebut memuat doa untuk 79 tokoh terpilih yang dipanjatkan Wali Spiritual Nusantara, Sri Eko Sriyanto Galgendu, selama 20 jam nonstop.

Acara ini menampilkan paparan dari Romo Sunardjo Sumargono JD, Prof. Yudhie Haryono, Yusuf Mudjiono, serta Jacob Ereste yang termasuk salah satu penerima doa spesial dalam kitab tersebut.

Kitab MA HA IS MA YA sendiri baru saja selesai dicetak dan siap di-launching secara resmi dalam waktu dekat di Jakarta dan sejumlah kota besar lain di Indonesia.

Diskusi berlangsung menarik karena mengaitkan isi kitab dengan karut-marut persoalan bangsa Indonesia saat ini, mulai dari ekonomi, hukum, politik hingga budaya yang terkesan tercerabut dari tata kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagai salah satu penerima doa spesial, penulis yang selama ini menjadi saksi perjalanan gerakan kesadaran spiritual yang dimotori Sri Eko Sriyanto Galgendu, justru mendapat kepercayaan dadakan untuk memberi pengantar diskusi tanpa konfirmasi awal. Tugas berat tersebut menuntut improvisasi yang cukup menguras energi.

Padahal penulis sudah mempersiapkan diri untuk memberikan kesaksian, bukan pengantar diskusi. Namun hal itu justru menjadi tantangan untuk membantu hadirin memahami duduk perkara kehadiran Kitab MA HA IS MA YA yang fenomenal jika ditelaah dari berbagai sudut pandang.

Apresiasi terhadap Kitab MA HA IS MA YA terbilang unik, mulai dari bahasa, teknis penyajian, hingga kandungan makna filosofis.

Sebagai karya kreatif yang langka dan sarat nilai spiritual sakral, kitab ini menjadi gagasan yang digali dari kearifan lokal Nusantara yang otentik dan orisinal, sebagai kekayaan tak ternilai dari warisan leluhur untuk hidup lebih bijak.

Anggota DPRD DKI Jakarta, Agust Hamonangan, SH., MH., mengapresiasi acara dan kehadiran kitab langka ini. Menurutnya, doa bernilai spiritual di dalamnya kini menjadi topik pembicaraan berbagai kalangan, terutama di Jakarta sebagai kota global.

Ia menilai potensi spiritual yang beragam dari suku bangsa Indonesia dapat menjadi pelopor gerakan kebangkitan kesadaran spiritual untuk menjaga perdamaian, baik dalam skala lokal, nasional, maupun global. Spiritual, kata dia, relevan menjadi modal membangun perdamaian dunia di tengah situasi yang memanas dan membuat hidup terasa gersang dan hampa.

Romo Sunardjo Sumargono JD melihat keterkaitan spiritual erat dengan nilai-nilai Pancasila yang tidak boleh diabaikan. Sementara Prof. Yudhie Haryono menilai kehadiran Kitab MA HA IS MA YA sebagai antitesis dari carut-marut yang melanda bangsa Indonesia.

Adapun Yusuf Mudjiono yakin kitab ini akan melengkapi beragam kitab yang telah dimiliki bangsa Indonesia sebelumnya, seperti Kitab Primbon atau Kitab Mujarabat yang mungkin belum banyak dibaca.

Menurut Sri Eko Sriyanto Galgendu, setelah perang Iran melawan Israel yang melibatkan Amerika sebagai pengendali ambisi kekuasaan, semakin jelas bahwa pemimpin dunia yang paling menentukan arah perubahan peradaban adalah pemimpin politik sekaligus pemimpin spiritual seperti Ayatollah Khomeini.

Prasyarat ideal seorang pemimpin, menurutnya, harus memiliki kemampuan dan kecerdasan spiritual yang ditopang etika, moral, dan akhlak mulia kemanusiaan, bukan hanya mengandalkan materi dan duniawi semata.

Atas dasar itu, gerakan kebangkitan kesadaran dan pemahaman spiritual menjadi pilihan terbaik untuk terus bergerak dari wilayah lokal, nasional, hingga global. Itulah harapan dari “Dialog Dalam Doa Kitab MA HA IS MA YA Untuk Perdamaian Dunia” 21 September 2026.

Rencananya, pada pertemuan rutin setiap Senin dan Kamis, GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) sebagai organ penggerak kebangkitan spiritual akan merekomendasikan diskusi lanjutan dengan menampilkan sejumlah tokoh wanita penerima doa spesial dalam Kitab MA HA IS MA YA.

Acara ini tidak hanya untuk mengisi kekosongan jelang launching kitab, tetapi juga untuk memaknai bobot muatan kitab serta memperkaya penafsiran isi kitab yang unik dan fenomenal ini.

Posted: sarinahnews.com

Pecenongan, 21 September 2026
Jacob Ereste