MAAFKAN KAMI, ALEXA

MAAFKAN KAMI, ALEXA

Sebuah Puisi Esai

MAAFKAN KAMI, ALEXA
Oleh Denny JA

(Seekor orang utan Borneo di Sabah, bernama Alexa, mati akibat asap kebakaran hutan di Kalimantan. Pohon-pohon di Kalimantan meminta maaf.) (1)

Alexa mati karena menghirup pohon-pohon yang terbakar.

Hutan Kalimantan berubah menjadi surat kematian yang ditulis asap kepada langit.

Alexa tidak pernah datang ke Kalimantan.

Pada suatu hari di bulan September 2026, Kalimantan datang kepadanya, menyelinap diam-diam, menyamar menjadi udara menuju paru-parunya.

Alexa tinggal di hutan Sabah.

Ia hidup di bawah bayang-bayang Kinabalu, tempat gunung menjaga rimba seperti seorang ibu menjaga anaknya tidur.

Rumah Alexa tidak memiliki pintu. Atapnya langit, lantainya dahan, alamatnya berpindah-pindah.

Ibunya telah lama hilang. Sejak kecil, Alexa mengerti: kehidupan adalah perjalanan mencari pegangan setelah pohon sebelumnya terpaksa dilepaskan.

Setiap malam ia merajut daun menjadi ranjang. Setiap pagi ia meninggalkannya, seperti kehidupan meninggalkan kemarin tanpa pernah meminta izin.

-000-

Lalu pada suatu pagi, matahari terbit berwarna tembaga.

Awan menjadi mata raksasa yang menangis.

Burung-burung terbang lebih rendah. Serangga menghilang. Alexa mencium sesuatu yang tak pernah diajarkan ibunya: aroma hutan yang sedang sekarat.

Jauh di selatan, Kalimantan terbakar. Api menggigit gambut, merayap melalui akar, memakan sejarah yang tersimpan berabad-abad di bawah tanah.

Pohon meranti menjadi bara. Pohon ulin menjadi arang. Pohon ramin menjadi asap.

Pohon-pohon yang selama ratusan tahun memberi napas, kini berubah menjadi racun.

Angin pun datang.
Ia menjadi kurir tertua di bumi, membawa kabar kematian melintasi laut tanpa paspor, tanpa visa, tanpa pemeriksaan perbatasan.

Manusia menggambar Indonesia dan Malaysia dengan garis-garis tegas di peta.

Tetapi angin tidak pernah belajar membaca peta buatan manusia.

Asap tiba di Sabah. Ia memasuki hutan Kinabalu menjadi pencuri yang tak terlihat, tanpa suara, tanpa langkah, tanpa meninggalkan sidik jari.

Alexa batuk sekali. Lalu dua kali. Kemudian berkali-kali.

Paru-parunya mengetuk pintu tubuhnya sendiri, meminta untuk diselamatkan.

-000-

Pada malam ketujuh, bintang-bintang lenyap. Langit menjadi kuburan cahaya. Napas Alexa berbunyi, menjadi daun kering diremas tangan tak terlihat.

Dari selatan terdengar suara. Bukan suara manusia.
Bukan suara binatang.

Itu napas ribuan pohon Kalimantan yang berbicara melalui angin malam.

“Alexa, maafkan kami.”
Alexa diam. Tangannya yang panjang memeluk dahan.

Dadanya naik turun bagai  perahu kecil yang kehilangan pelabuhan di tengah badai.

“Kami tidak memilih terbakar,” kata pohon-pohon. “Kami dilahirkan untuk memberi udara, tetapi tubuh kami kini datang kepadamu sebagai racun.”

Meranti berbisik, “Aku seharusnya memberimu oksigen.” Ulin berkata, “Aku seharusnya menjaga bumi.” Ramin menangis, “Kini abu kami memenuhi dadamu.”

Alexa tidak menjawab. Orang utan tidak membutuhkan bahasa manusia untuk memahami kesedihan. Ada duka yang terlalu tua untuk memerlukan kata.

-000-

Fajar kesembilan datang perlahan, membawa cahaya pucat ke hutan Sabah.

Pagi datang seperti dokter yang terlambat. Ia melihat Alexa, tetapi tak lagi membawa obat.

Alexa tidak bangun. Tangannya masih menggenggam dahan.

Tubuh kecil itu seolah meninggalkan satu kalimat terakhir: Aku sebenarnya belum ingin pergi.

Jauh di Kalimantan, pohon-pohon bergoyang diterpa angin.

Untuk terakhir kali mereka berbisik melintasi laut:
“Maafkan kami, Alexa.”
Alexa tidak menjawab.
Hutan pun diam. ***)

Posted: sarinahnews.com
Bali, 8 September 2026

CATATAN
(1) Alexa adalah kisah fiksi. Ia terinspirasi oleh kenyataan ekologis kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan. Kabut asap lintas batas mencapai Sabah, menjadi  ancaman asap kebakaran terhadap orang utan dan satwa Borneo.

https://www.detik.com/edu/edutainment/d-8648626/orang-utan-sampurna-mati-imbas-karhutla-gubes-ugm-ingatkan-ancaman-punahnya-habitat/amp

-000-

Berbagai puisi esai dan ratusan  esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/19RHoRjkpX/?mibextid=wwXIfr