Senja dan Dua Rahasia

Senja dan Dua Rahasia

Senja dan Dua Rahasia
Oleh Kadir Wahyudi

 

Sore itu langit Malang meluruh pelan. Jingga terakhir menetes di ujung genteng, enggan pergi.
Di beranda, dua kursi rotan tua menghadap ke barat. Di tengahnya, dua cangkir teh jahe yang uapnya sudah lama mati.

Pak Darman, 73 tahun. Bu Lastri, 70 tahun. Usia senja. 48 tahun mereka menua bersama. Kulit mengeriput, tapi cinta belum pernah keriput.

Pak Darman melirik Lastri. Istrinya yang sangat ia cintai. Ia bingung, harus mulai dari mana mengajaknya bercerita tentang masa lalu. Pada akhirnya ia memberanikan diri.

“Hari ini temani Bapak sampai matahari pulang ya, Mak,” pinta Pak Darman. Suaranya serak seperti daun kering.

Bu Lastri mengangguk. Ada firasat yang mengetuk dadanya.

Angin sore membawa wangi melati dan kenangan.

Pak Darman menggenggam tangan istrinya. Tangannya dingin.
“Mak… izinkan Bapak menelanjangi jiwa di hadapanmu. Sekali ini saja. Sebelum Bapak benar-benar telanjang di hadapan Tuhan.”

Bu Lastri menatapnya. “Katakan, Dar.”

“30 tahun lalu, di Surabaya… Bapak tersesat, Mak. Bukan karena jalan. Tapi karena sepi.
Rumah kita waktu itu terlalu sunyi. Anak-anak sudah punya dunianya. Kamu sibuk dengan pengajian dan tetangga. Bapak pulang, disambut kursi kosong.
Lalu datang perempuan itu. Ia memuji Bapak seperti dulu kamu memuji. ‘Pak Darman hebat’. ‘Pak Darman masih gagah’.
Bodohnya Bapak, Bapak kira itu cinta. Padahal itu hanya gema dari kosong di dalam dada Bapak.
Bapak mengkhianatimu, Mak. Dengan tubuh. Tapi tidak pernah dengan hati. Karena hati Bapak, dari dulu sampai sekarang, hanya punya satu nama: Lastri.”

Air mata jatuh ke punggung tangan Bu Lastri.

Hening. Lama.
Lalu Bu Lastri mengangkat wajah. Matanya berkaca, tapi senyumnya utuh. Ia menatap ke langit jingga, seakan memutar kembali kejadian masa lalu.

“Dar… kamu pikir hanya kamu yang pernah tersesat?”

Pak Darman tertegun.

“25 tahun lalu. Waktu kamu dinas 3 bulan di Kalimantan. Rumah ini rasanya kuburan, Dar. Sepi.
Ada guru ngaji baru. Muda. Sopan. Ia bilang, ‘Bu Lastri masih cantik’. Ia bilang, ‘Bu Lastri hebat ngurus 3 anak sendirian’.
Aku marah sama kamu, Dar. Marah karena kamu memilih kerja daripada aku. Marah karena aku merasa sudah jadi perabot tua di rumah ini.
Dan dalam marah dan sepi itu… aku jatuh. Bukan karena cinta. Tapi karena aku ingin merasa hidup lagi. Ingin merasa diinginkan lagi.
Aku juga mengkhianatimu, Dar. Dengan tubuh. Tapi tidak pernah dengan hati. Karena hati ini, sejak ijab kabul dulu, hanya berdetak untuk Darman.”

Pak Darman menunduk. Bahunya bergetar. Ia tak menduga. Hatinya bertanya-tanya, _’Kenapa semua itu bisa terjadi?’_
Ia kira hanya dirinya yang menyimpan aib. Ternyata istrinya pun sama.

“Kenapa kita, Mak?” bisiknya.
“Kenapa cinta sebesar ini masih bisa terluka?”

Bu Lastri mengusap uban di kepala suaminya.
“Karena manusia, Dar. Bahkan pohon beringin setinggi apa pun, kalau akarnya kering, dia akan cari air di tempat lain.
Dulu kita kering, Dar. Kita sama-sama haus pengakuan. Kita sama-sama lupa bilang ‘aku bangga padamu’.
Bukan pembenaran. Ini pengakuan. Dan hari ini, di senja hidup kita, kita keringkan sama-sama.”

Pak Darman menarik napas panjang. Dadanya naik turun. Keberanian untuk mengaku di ujung usia adalah hal yang tidak semua orang mampu.

“Mak… maafkan Bapak.”

“Dar… aku sudah memaafkanmu sejak 25 tahun lalu. Saat aku melakukan hal yang sama. Kita ini sama-sama pendosa, Dar. Dan sama-sama manusia yang masih mau pulang.”

Matahari sudah di bibir langit. Merah. Seperti luka yang mau sembuh.

Pak Darman menyandarkan kepalanya di pangkuan Lastri. Istri tercinta.
“Berat ya, Mak… kepala Bapak.”

“Enggak, Dar. Ringan. Karena hari ini kamu sudah menurunkan beban paling berat dari pundakmu.”

“Terima kasih… sudah mau jadi rumah Bapak. Sampai akhir.”

Bu Lastri membelai rambutnya. “Tidur ya, Dar. Kita sudah saling memaafkan. Tidak ada lagi rahasia antara kita dan langit.”

Napasku Pak Darman memendek. Pelan.
Diiringi adzan Maghrib dari surau ujung gang, napas itu berhenti.
Di pangkuan Bu Lastri. Dengan senyum yang tenang. Seolah 30 tahun penyesalan itu luruh bersama napas terakhirnya.

Bu Lastri tidak menjerit. Ia hanya memeluk.
“Selamat jalan, Dar… kekasihku sejak muda, teman dosaku, dan penebusku di senja.”

Langit gelap.
Dua cangkir teh jahe itu masih di sana. Dingin.
Tapi di atas beranda itu, ada dua jiwa yang akhirnya telanjang, saling memaafkan, dan pulang. ***)

TAMAT

Malang, 30 Juli 2026
dimuat di: http://sarinahnews.com