Cerpen Fiksi
Botol Terakhir dan Pintu yang Tak Pernah Dibuka
Oleh Kadir Wahyudi
Angin malam di Malang menusuk lewat sela genteng. Menusuk sampai ke tulang-tulang tua Toyik.
Usianya 67. Tapi badannya seperti 80. Kulitnya mengkerut, dilumuri bau arak murah dan obat rumah sakit.
Sendiri.
Rumah peot di atas Kali Brantas, Oro-oro Dowo. Dulu dia raja di warung pojok. Teriakannya paling keras. Gelaknya paling panjang. Pasar Oro-oro Dowo adalah daerah jajahannya. Tak seorang pun berani mengusik parkiran di sana.
Sekarang dia raja di rumah kosong. Dengan kursi kosong, piring kosong, dan hati yang lebih kosong. Kakinya gemetar, tak mampu berdiri lama. Tangannya gemetar menggenggam “botol terakhir”.
Tapi hatinya masih mengajak berjalan, menelusuri trotoar, memasuki lorong-lorong malam. Dingin. Kaki sudah tak sanggup. Mata sudah kabur.
Ia duduk bersandar di kursi tua. Kursi peninggalan kakeknya. Angannya dikoyak kesepian, menggores masa lalu tentang istri dan anaknya yang pergi 4 tahun lalu.
Surat cerai datang bersamaan dengan vonis dari dokter: _Sirosis. Stadium akhir._
Ia tobat malam itu juga. Bukan karena Tuhan. Tapi karena takut mati sendirian.
Ia tahu semua sudah terlambat. Tapi tetap saja. Tatapannya kosong, jauh, menatap entah ke mana. Ia menghibur diri dengan mengingat angannya yang dulu egois. Dulu ia kira semua demi teman. Sementara anak istri terlupakan. Teman mabuk sampai pagi. Tiap hari.
“Di mana teman-teman itu sekarang?”
Satu dua mata tetangga melirik dingin. Seolah tak kenal. Ia duduk tak bergeming. Hidup terus berjalan karena hidup pasti ada ujungnya. Senyum pahit ia berikan pada mereka yang lewat depan rumahnya.
Karena dingin semakin menusuk tulang, ia masuk ke rumah. Rumah kecil penuh cerita. Dulu keluarga kecil yang romantis di awal pernikahan. Ah, romantisnya. Tapi semua rusak oleh botol-botol minuman keras.
“Semua itu tinggal cerita,” pikirnya. Walau di sudut hatinya masih ada harap: adakah sisa-sisa romantisme di ujung senja kehidupannya?
Semua pintu sudah ia bakar dengan botol-botolnya.
oo0oo
Di ujung gang, ia coba mengetuk rumah Siti. Perempuan pertama yang ia cintai. Yang ia nikahi. Tidak ada yang lain. Tapi perempuan itu lelah diduakan selama puluhan tahun oleh botol-botol minuman keras.
Pintu kayu itu tetap diam. Hanya gorden yang bergerak sedikit. Ia tahu ia sedang dilihat. Tapi tidak dibukakan. Rumah itu sudah ditinggalkan Siti dan anaknya. Siti kini tinggal di rumah orang tuanya.
Ketika ia ke kontrakan anaknya di Surabaya, satpam hanya bilang: “Pak, anak bapak titip pesan. Jangan datang lagi.”
“Jangan datang lagi.”
Tiga kata itu lebih tajam dari pecahan kaca.
oo0oo
Setiap malam ia sholat. Sujudnya lama. Air matanya jatuh ke sajadah.
Tapi doanya mentok di langit-langit.
Mungkin karena selama 40 tahun, doa yang ia panjatkan cuma: “Tambah satu botol lagi, Mak. Ayo, tambah lagi, kawan!”
Hari ini hujan. Hujan yang sama seperti malam ia mengusir istrinya karena mabuk.
Di meja: ada satu botol. Belum dibuka. “Botol terakhir,” kata temannya dulu sambil tertawa.
Toyik menggenggamnya. Dingin. Berat.
Ia berjalan ke kamar mandi. Menatap wajahnya di cermin retak. Wajah orang asing. Mata merah. Bibir pecah.
Ia berbisik ke bayangannya: “Maaf.”
Tidak ada yang menjawab.
Lalu ia membuka keran. Air dingin mengguyur kepalanya. Botol itu ia genggam erat… lalu ia jatuhkan.
Prak! Pecah. Seperti hidupnya.
Darah. Bukan dari botol. Dari mulutnya.
Ginjalnya menyerah. Tubuhnya menyerah.
Ia terduduk di lantai kamar mandi yang basah. Menggigil.
Di luar, hujan makin deras.
Di dalam, Toyik tersenyum. Senyum yang tidak pernah ia berikan ke anaknya.
“Akhirnya… sepi juga yang menemani aku sampai akhir.”
Lampunya padam.
Rumah itu kembali gelap. Seperti 40 tahun terakhir hidupnya.
Paginya, tetangga mencium bau.
Pintu didobrak. Di lantai kamar mandi: mayat lelaki tua, memeluk pecahan kaca, dengan botol kosong di sampingnya.
Tidak ada yang melayat.
Tidak ada yang menangis.
Hanya hujan yang terus turun di atas seng rumahnya. ***)
TAMAT
Posted: http://sarinahnews.com
Malang, 29 Juli 2026





