Hatur Bekti Leluhur Mbah Karang Poh Arjosari, Romo Sugiono: Ojo Pitungan Marang Leluhurmu

Hatur Bekti Leluhur Mbah Karang Poh Arjosari, Romo Sugiono: Ojo Pitungan Marang Leluhurmu

KOTA MALANG | SARINAH NEWS || – Warga Kelurahan Arjosari Kecamatan Blimbing gelar Hatur Bekti Leluhur Mbah Karang Poh dalam memperingati bulan sakral atau “Suroan” wujud puji syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Menurut Romo Sugiono, Kegiatan Suroan di Arjosari atau memeperingati Tahun Baru Islam (Hijriah) digelar setiap tanggal 6 Suro (tanggal jawa), dan digelar di sepanjang jalan depan Kantor Kelurahan Arjosari Kecamatan Blimbing. Senin, (22/6/2026)

Sekedar informasi: Bulan Suro adalah bulan pertama dalam kalender Jawa yang memiliki makna yang sarat dengan sakral, mistis, dan spiritual.

Bulan ini berakar dari penanggalan Islam (1448 Hijriah), bulan ini adalah waktu bagi masyarakat Jawa untuk melakukan introspeksi diri, tirakat (prihatin), dan memohon keselamatan terhadap Tuhan Yamg Maha Esa.

Sejarah dan Penanggalan Jawa diciptakan oleh Sultan Agung dari Kerajaan Mataram Islam pada tahun 1633 M. Beliau  menggabungkan sistem penanggalan Hindu (Saka) dengan Islam (Hijriah). Nama “Suro” sendiri berasal dari kata Asyura (tanggal 10 Muharram).

Kegiatan ini cukup luarbiasa, karena dihadiri Amithya Ratnanggani Sirraduhita Ketua DPRD Kota Malang. Kegiatan ini didampingi lanhsung oleh Sativana Sari Prawoedyo Lurah Arjosari dan Romo Sugiono Tokoh Budaya Arjosari.

Dari sumber yang digali oleh awak media, Amithya Ketua DPRD Kota Malang mengapresiasi kegiatan gelaran merawat budaya sebagai wujud pelestarian budaya Jawa yang dilaksanakan di Kelurahan Arjosari.

Ia menyampaikan apresiasinaya bahwa semua pelestarian budaya dalam memperingati bulas “Suro” dilakukan dengan gotong royong oleh warga setempat, artinya warga Arjosari mengimplementasikan Pancasila, karena gotong royong itu adalah intisarinya Pancasila.

Selanjutnya, Sativana Sari Prawoedyo Lurah Arjosari menyampaikan ucapan terimakasih pada warga telah bergotomg royong melestarikan budaya bersama pihak pemerintahan kelurahan bahwa itu adalah wujud sinergisitas antara pemerintah dan warga. Kedepannya ia berharap akan lebih meriah lagi.

Karena penekanan effisiensi anggaran yang dicanangkan oleh Pemkot Malang, sehingga pemerintah kelurahan tidak mampu memberikan lebih kecuali mamin (tumpeng). Kedepan ia berharap akan memberikan yang terbaik.

Selanjutnya, Romo Sugiono menerangkan rangkaian kegiatan mulai dari pengajian  umul qur’an (pagi), masak jenang (sore), dan festival gunungan buah dan sayur (malam) digelar mengitari wilayah Arjosari merupakan wujud rasa syukur atas kesejahteraan dan kemakmuran yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam keterangannya, Romo Sugiono menyampaikan makna filosofis dari kegiatan pembuatan “jenang Suro” dan arak-arakan (festival) “Gunungan Buah dan Sayur”.

Menurutnya, Jenang Suro adalah bubur khas yang disajikan oleh masyarakat Jawa untuk menyambut Tahun Baru Islam atau 1 Muharram (Bulan Suro) atau bulan “Saka” dalam penanggalan Jawa.

Secara filosofis, hidangan ini melambangkan rasa syukur kepada Tuhan, harapan akan berkah dan kesuburan di tahun baru suro, serta menjadi sarana untuk mempererat solidaritas antar-tetangga.

Pembuatan Jenang Suro sendiri dibuat langsung di halaman rumah warga, bahwa itu menunjukkan kebersamaan dan gotong royong warga merawat nilai-nilai adiluhung budaya Jawa. Rame ing Gawe Sepi Ing Pamrih.

Dan, terkait sedekah bumi (festival gunungan buah dan sayur) atau bersedekah dari hasil kerja keras (karena hidup di perkotaan) adalah upacara adat tradisional masyarakat Jawa yang dilakukan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan atas hasil bumi atau kerja keras (buruh) yang telah diberikan.

Romo Sugiono menekannkan bahwa Jenang Suro adalah bubur khas yang disajikan oleh masyarakat Jawa untuk menyambut Tahun Baru Islam atau 1 Muharram (Bulan Sura).

Dan, makna dari “Sedekah Bumi” adalah upacara adat sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki dan hasil bumi yang melimpah.

Lebih dari sekedar ritual, tradisi ini memuat nilai-nilai spiritual, menjadi simbol keharmonisan dengan alam, serta berfungsi sebagai perekat kerukunan sosial dan gotong royong antar warga.

“Ojo pitungan marang leluhurmu. Yen kepingin gangsar, lancar oleh safaate leluhurmu” (jangan perhitungan terhadap leluhurmu, bila keinginan itu semua mudah dan lancar mendapatkan shafaatnya dari leluhur),” pesan Romo Sugiono. (kw)