Filsafat Politik
MEMBACA KERUNTUHAN IDEOLOGI
Joko Sukmono
Pada hari ini, pada pertengahan dekade ketiga abad ke-21 ini, dechiperisme membacakan bahwa Marxisme dan Kapitalisme bukan lagi dua kutub besar yang sedang bertarung menentukan arah sejarah umat manusia sebagaimana pada abad ke-20, melainkan keduanya telah berubah menjadi residu-residu historis yang masih bergerak sebagai bayang-bayang sosial politik.
Marxisme mengalami kejenuhan ontologis karena gagal mempertahankan konstruksi materialismenya secara utuh setelah keruntuhan Uni Soviet, sedangkan Kapitalisme mengalami kejenuhan eksistensial karena kemenangan totalnya justru melahirkan kekosongan historis.
Dalam konstruksi politik dechiperisme, kemenangan Kapitalisme adalah awal dari keruntuhannya sendiri, sebab ketika seluruh dunia telah tunduk pada mekanisme pasar, hutang global, ekspansi modal, dan dominasi finansial, maka Kapitalisme kehilangan “musuh ontologis”-nya. Ia menang terlalu sempurna hingga akhirnya memproduksi kehampaan sosial yang akut.
Inilah yang oleh dechiperisme dinamakan sebagai Situasi Kelimpahan Tragis, yaitu keadaan ketika produksi melimpah tetapi makna hidup manusia runtuh bersamaan dengan melimpahnya benda-benda konsumsi.
Dalam pembacaan dechiperisme, Homo Economicus modern bukan lagi manusia produktif sebagaimana dibayangkan Adam Smith maupun kaum utilitarian klasik, melainkan manusia yang terfragmentasi oleh dorongan konsumsi tanpa batas.
Di sini dechiperisme secara tidak langsung beresonansi dengan kritik Mazhab Frankfurt terhadap rasionalitas instrumental, namun dechiperisme melangkah lebih jauh.
Jika Adorno dan Horkheimer masih percaya bahwa industri budaya menciptakan manusia pasif melalui manipulasi kapitalistik, maka dechiperisme menyatakan bahwa manusia modern justru secara sukarela menyerahkan dirinya kepada sistem dominasi tersebut karena kehilangan keberanian eksistensial untuk hidup sebagai manusia konkret.
Manusia modern hidup di bawah ilusi keberuntungan kolektif: karier, investasi, pertumbuhan ekonomi, digitalisasi, dan pencitraan sosial, padahal semua itu hanyalah kosmetika historis yang menutupi kecemasan ontologisnya sendiri.
Dechiperisme kemudian membedah Kapitalisme bukan sebagai sistem ekonomi semata, tetapi sebagai metafisika sosial politik yang bekerja melalui penetrasi kesadaran.
Kapitalisme tidak lagi hadir dengan wajah kolonialisme klasik, tidak lagi membutuhkan penjajahan langsung dengan kapal perang dan pendudukan militer sebagaimana imperium abad ke-19.
Kapitalisme mutakhir bekerja melalui apa yang oleh dechiperisme disebut sebagai operasi dechipering politik, yaitu penguasaan terhadap mekanisme global tanpa harus menguasai secara fisik wilayah-wilayah geografis tertentu.
Dalam konstruksi ini, hutang internasional, lembaga finansial global, pasar modal, teknologi digital, algoritma informasi, dan dominasi narasi media menjadi instrumen imperialisme baru.
Ini memiliki kemiripan dengan analisis Michel Foucault tentang biopolitik dan governmentality, namun dechiperisme membacanya secara lebih eksistensial-historis: manusia tidak lagi dijajah tubuhnya, melainkan dijajah kemungkinan hidupnya.
Lebih dalam lagi dechiperisme menunjukkan bahwa Marxisme sendiri telah kehilangan daya revolusionernya karena terjebak pada romantisme proletariat yang tidak lagi konkret.
Buruh industri klasik yang dahulu menjadi subjek revolusi historis telah berubah menjadi pekerja digital, operator algoritma, pekerja informal global, dan manusia virtual yang tidak lagi memiliki solidaritas material sebagaimana pada abad ke-19.
Dalam bahasa dechiperisme, proletariat telah mengalami atomisasi historis. Mereka tidak lagi menjadi kelas revolusioner, tetapi berubah menjadi komunitas-komunitas kecil yang saling terisolasi dalam ruang digital.
Karena itulah komunisme modern akhirnya berkoeksistensi dengan kapitalisme sebagaimana tampak dalam Republik Rakyat Tiongkok.
Dalam pembacaan dechiperisme, Tiongkok bukan negara komunis dalam pengertian klasik Marxian, melainkan bentuk baru dari sintesis kekuasaan administratif total dengan ekspansi kapitalistik yang terkendali.
Negara tetap mempertahankan moral politik komunisme sebagai simbol legitimasi, tetapi praktik ekonominya bergerak dengan logika kapitalisme global. Inilah yang oleh dechiperisme dinamakan sebagai Koeksistensi Kontradiktif.
Di sini dechiperisme memiliki kedekatan tertentu dengan Slavoj Žižek yang menyatakan bahwa Kapitalisme mampu menyerap bahkan kritik terhadap dirinya sendiri menjadi bagian dari mekanisme reproduksi sistem.
Akan tetapi dechiperisme melampaui Žižek dengan menyatakan bahwa baik Kapitalisme maupun Marxisme sebenarnya telah mati secara ontologis, dan yang tersisa hanyalah tubuh-tubuh ideologis yang masih bergerak sebagai mayat sejarah.
Karena itu dechiperisme menyebut para penganut Marxisme dan neoliberalisme hari ini sebagai kaum esensialis historis: mereka masih percaya pada struktur lama yang sebenarnya telah kehilangan daya eksistensialnya.
Namun dechiperisme tidak berhenti pada kritik terhadap sistem ekonomi-politik. Ia melangkah menuju pembacaan yang lebih radikal terhadap konflik global kontemporer.
Dalam konstruksi politik dechiperisme, konflik Timur Tengah bukan lagi pertarungan antara Kapitalisme melawan Komunisme, ataupun antara Demokrasi melawan Otoritarianisme.
Semua kategori itu dianggap usang. Konflik hari ini adalah benturan tindakan eksistensial politik antara bangsa-bangsa yang sedang memperjuangkan keberlangsungan ontologisnya masing-masing.
Karena itu Amerika Serikat tidak lagi dipahami sebagai “bapak demokrasi” atau “kampium kapitalisme”, melainkan sebagai negara adidaya yang menjalankan perintah eksistensial politiknya untuk mempertahankan tatanan global yang menopang keberadaan historisnya.
Israel tidak lagi semata-mata dibaca sebagai negara nasional modern, tetapi sebagai manifestasi konkret Zionisme historis yang sedang memperjuangkan keberlangsungan bangsa dan proyek geopolitiknya.
Sedangkan Iran tampil sebagai kekuatan anti-hegemoni yang mencoba mempertahankan moral teokratis-revolusionernya terhadap penetrasi global Barat.
Dalam konteks ini dechiperisme menolak pembagian moral sederhana antara “penindas” dan “tertindas”. Bagi dechiperisme, semua pihak yang terlibat dalam konflik global sesungguhnya menjalankan tindakan eksistensial politik masing-masing.
Hamas, Hezbollah, Houthi, Israel, Amerika Serikat, Iran—semuanya merupakan manifestasi kehendak historis yang sedang bertabrakan dalam ruang sosial politik global.
Maka pertanyaan “siapa yang benar?” kehilangan relevansi ontologisnya. Yang lebih penting bagi dechiperisme adalah memahami bagaimana sejarah sedang membuka saluran perubahan melalui konflik-konflik tersebut.
Di sini dechiperisme memiliki kemiripan tertentu dengan Carl Schmitt yang melihat politik sebagai distingsi antara kawan dan lawan, tetapi dechiperisme melangkah lebih jauh dengan menempatkan konflik sebagai instrumen Hukum Rasional Sejarah untuk menghancurkan struktur-struktur yang telah membusuk.
Karena itu dechiperisme memandang terorisme modern secara berbeda dari paradigma keamanan internasional konvensional. Terorisme bukan lagi sekadar aksi kekerasan bersenjata, melainkan efek limbah politik global.
Ketika warga Gaza terbunuh, ketika ekonomi global terguncang, ketika ketakutan kolektif menyebar melalui media digital, maka itulah bentuk teror ontologis baru. Teror bukan hanya ledakan bom, tetapi distribusi kecemasan massal yang diproduksi oleh konflik global.
Dalam titik ini dechiperisme mendekati teori Jean Baudrillard tentang simulasi dan hiperrealitas, terutama gagasan bahwa perang modern diproduksi melalui citra dan sirkulasi informasi.
Akan tetapi dechiperisme tetap mempertahankan unsur historisitas konkret: perang tetap nyata karena manusia konkret tetap mati, menderita, dan kehilangan dunia hidupnya.
Lebih lanjut dechiperisme menunjukkan bahwa imperialisme modern hari ini tidak lagi membutuhkan pendudukan langsung. Ia bekerja melalui dominasi narasi, penetrasi teknologi, hutang internasional, ketergantungan ekonomi, dan penguasaan kesadaran digital.
Oleh sebab itu dechiperisme menyatakan bahwa dunia sedang bergerak menuju fase baru yang tidak lagi bisa dijelaskan oleh teori-teori politik klasik. Demokrasi liberal, komunisme, nasionalisme, bahkan neoliberalisme, semuanya sedang mengalami kelelahan ontologis.
Dunia global bergerak menuju keadaan yang oleh dechiperisme dinamakan sebagai Situasi Batas Sosial Politik Akut: keadaan ketika seluruh struktur lama masih berdiri secara administratif tetapi kehilangan legitimasi eksistensialnya.
Dalam keadaan seperti itu, manusia konkret menjadi pusat perhatian dechiperisme. Sebab pada akhirnya sejarah tidak dijalankan oleh dokumen, ideologi, maupun teori-teori besar, melainkan oleh manusia-manusia yang bertindak di dalam ruang dan waktu.
Dechiperisme kemudian membedakan secara tegas antara manusia konkret dan manusia ideologis. Manusia ideologis hidup berdasarkan slogan, simbol, dan keyakinan kolektif yang diwariskan oleh sejarah, sedangkan manusia konkret hidup berdasarkan keberanian eksistensialnya sendiri.
Ia sadar bahwa hidup tidak dijamin oleh sistem apa pun. Ia hidup dengan pengalamannya, penderitaannya, tanggung jawabnya, dan keberaniannya menciptakan dirinya sendiri tanpa perlindungan ilusi metafisis.
Namun dechiperisme juga pesimistis terhadap kemungkinan hadirnya manusia otentik secara penuh. Sebab setiap upaya menjadi manusia otentik selalu berhadapan dengan tekanan struktur sosial, penetrasi budaya, dan distorsi historis.
Karena itu manusia otentik dalam dechiperisme bukan keadaan final, melainkan proses menjadi yang tidak pernah selesai. Ia bukan model yang bisa ditiru, melainkan peluang eksistensial yang terus bergerak bersama sejarah.
Dan oleh karenanya, dechiperisme akhirnya membacakan bahwa dunia hari ini sedang bergerak menuju fase historis baru: fase ketika ideologi-ideologi besar runtuh, institusi global kehilangan daya moralnya,
Kapitalisme mengalami kejenuhan ontologis, Marxisme menjadi residu historis, dan manusia modern dipaksa menghadapi dirinya sendiri tanpa perlindungan ilusi kolektif.
Dalam situasi seperti itu sejarah tidak lagi berjalan secara linear sebagaimana dibayangkan modernitas, melainkan bergerak melalui ledakan-ledakan kontradiksi yang tidak terbayangkan sebelumnya. Inilah yang oleh dechiperisme disebut sebagai kerja absolut dari Hukum Rasional Sejarah. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 18 Mei 2026





