Politik dan Transhistorisitas Manusia dalam Konstruksi Dechiperisme

Politik dan Transhistorisitas Manusia dalam Konstruksi Dechiperisme

Filsafat Politik

Politik dan Transhistorisitas Manusia dalam Konstruksi Dechiperisme
Joko Sukmono

Siapakah yang melangsungkan kehidupan sosial itu? Ia adalah manusia politik. Siapakah yang melintasi jalan sejarah itu? Ia adalah manusia sejarah. Siapakah yang berani menjalani hidup tanpa ilusi? Ia adalah manusia otentik.

Ketiganya menjadi penggerak dunia sosial-politik dan dari merekalah kehidupan sosial memperoleh bentuk keberadaannya. Dalam konstruksi Dechiperisme, ketiga bentuk manusia tersebut dipahami sebagai keberadaan ontologis yang terus bergerak dalam proses menjadi, hadir, dan sungguh-sungguh mengada di tengah lintasan sejarah umat manusia.

Manusia politik menggerakkan dunia sosial-politik tanpa dapat dihentikan oleh apa pun. Nilai-nilai, sistem, hukum, maupun konstitusi baginya hanyalah slogan politik yang dapat digunakan atau diabaikan sesuai kepentingannya.

Yang paling penting bagi manusia politik adalah menjalankan perintah politik yang bernama kehendak untuk terus berkuasa. Kehendak itu ditopang oleh pancang-pancang ideologis yang disebut sebagai moral politik hegemonistik.

Dalam konstruksi Dechiperisme, kekuasaan semacam ini berubah menjadi kekuasaan yang melembaga dan menjelma sebagai rezim politik yang bertindak layaknya diktator mayoritas, meskipun pada kenyataannya ia hanya digerakkan oleh segelintir manusia politik yang oleh Dechiperisme disebut sebagai oligark-oligark yang berhimpun di dalam presidium negara bernama oligarki.

Yang kedua adalah manusia sejarah. Ia hadir dan menjadi karena kehendak historis. Ia adalah rasio historis yang mendistorsi ruang kehidupan sosial-politik manusia.

Pada mulanya ia hidup di dunia ide, tetapi tuntutan sejarah memaksanya hadir secara konkret sebagai hukum rasional sejarah yang mengerucut menjadi hukum rasional perubahan, lalu mengalir sebagai hukum rasional peralihan.

Transhistorisitas semacam itu tidak pernah berhenti bermanifestasi sepanjang sejarah umat manusia. Dalam pembacaan Dechiperisme, konflik, konfrontasi, dan berbagai krisis global yang semakin kompleks merupakan bentuk manifestasi terbaru dari gerak historis tersebut.

Dunia hari ini dipahami sedang berada dalam situasi batas sosial-politik yang akut, ketika sejarah menekan seluruh struktur kehidupan manusia menuju titik perubahan yang tidak lagi dapat dihindari.

Yang ketiga adalah manusia otentik. Ia merupakan dimensi eksistensial yang kompleks, konkret, utuh, sekaligus individual.

Ia hadir sebagai eksistensi yang unik dan majemuk. Ia adalah dirinya sendiri. Ia adalah kebebasannya sendiri. Ia adalah pengalamannya sendiri. Ia adalah penderitaannya sendiri. Ia juga adalah tanggung jawabnya sendiri.

Manusia otentik menciptakan dirinya sendiri dan tidak tunduk pada makna, moral, maupun sistem global yang mendominasi sebagian besar manusia lainnya.

Ia membangun dunianya sendiri dengan seluruh risiko yang harus ditanggungnya sendiri. Ia menjadi tuan bagi dirinya sendiri, dan kehadirannya di dalam ruang dan waktu semata-mata demi menjalani hidupnya secara eksistensial.

Namun dalam pembacaan Dechiperisme, manusia otentik belum benar-benar menjadi secara utuh karena belum menemukan penjelasan eksistensial yang mendalam mengenai alasan mengapa ia harus hidup. Oleh sebab itu, keberadaan manusia otentik masih berada dalam proses menjadi yang tak pernah selesai.

Lebih lanjut, Dechiperisme membaca bahwa tingkah laku manusia politik pada dasarnya bersifat produktif sekaligus imperialistik, represif, dan destruktif. Ia membangun kekuasaan dengan cara melakukan pembunuhan karakter terhadap manusia lain, baik secara simbolik maupun sosial.

Dalam konstruksi Dechiperisme, tindakan semacam ini disebut sebagai anarkisme sosial yang terus berlangsung sepanjang sejarah umat manusia.

Manusia politik selalu bergerak dengan tujuan mempertahankan dominasi dan memperluas kekuasaan tanpa pernah benar-benar memedulikan akibat ontologis yang ditimbulkannya terhadap kehidupan manusia konkret.

Pengenaan makna, moral, dan etika kepada anak-anak manusia tidak pernah berhenti sepanjang sejarah. Dalam konteks rezim regional, penetrasi tersebut hadir dalam bentuk nasionalisme yang menumbuhkan cinta tanah air, penghormatan kepada simbol negara, bendera negara, lagu kebangsaan, dan kepatuhan kepada regulasi.

Namun Dechiperisme mempertanyakan: untuk siapa seluruh konstruksi simbolik itu sesungguhnya dibangun? Apakah demi bangsa, warga negara, atau rakyat? Jawaban Dechiperisme sangat tegas: semuanya itu pada akhirnya hanya menjadi alat bagi kepentingan penguasa.

Bangsa dipolitisasi sebagai semangat kolektif, warga negara diperas melalui kewajiban, dan rakyat dijadikan jargon politik belaka. Inilah yang oleh Dechiperisme disebut sebagai ironi tirani. Dalam sejarah umat manusia, tindakan manusia politik nyaris tak pernah terbendung.

Dua perang dunia, perang dingin, perang Korea, perang Arab-Israel, perang India-Pakistan, perang Ukraina, hingga konflik Israel-Iran dan Amerika-Iran dipandang sebagai bentuk konkret dari kehendak manusia politik untuk terus berkuasa.

Yang dipertaruhkan bukan hanya kekuasaan semata, melainkan juga bangsa, warga negara, rakyat, bahkan masa depan peradaban dunia.

Dalam pembacaan Dechiperisme, inilah realitas politik dominasi: keadaan ketika seluruh sumber daya dapat digunakan tanpa perlu meminta izin kepada siapa pun. Negara, institusi, dan rakyat hanyalah perabot politik yang dapat dipakai maupun dibuang sewaktu-waktu demi kepentingan kekuasaan.

Manusia politik selalu hadir secara fisik di dalam sejarah. Ia tampil sebagai raja, presiden, perdana menteri, pemimpin revolusi, atau berbagai bentuk kepemimpinan lainnya.

Akan tetapi, manusia sejarah justru sering hadir dengan nasib tragis. Sokrates harus mengakhiri hidupnya dengan secawan racun. Yesus yang dipandang sebagai figur historis dan spiritual harus mati di kayu salib.

Dalam konstruksi Dechiperisme, kematian manusia sejarah bukanlah akhir, melainkan martir historis yang terus menghantui kesadaran manusia sepanjang perjalanan hidupnya di muka bumi.

Mereka berubah menjadi simbol historis yang melampaui keberadaan biologisnya sendiri.

Dechiperisme kemudian menunjukkan bahwa sejarah sering kali melakukan pengultusan berlebihan terhadap manusia sejarah.

Sokrates diberi predikat sebagai bapak kebijaksanaan. Yesus dipahami sebagai Tuhan yang hadir secara konkret di dalam ruang dan waktu.

Dalam pembacaan Dechiperisme, pengultusan tersebut merupakan kecelakaan sejarah yang dapat melahirkan fanatisme rasional maupun fanatisme spiritual.

Akan tetapi, sejarah sendiri tetap bergerak tanpa berhenti, sejajar dengan gerak dominasi yang dilakukan manusia politik.

Lalu kapan manusia otentik benar-benar hadir secara konkret di dalam ruang dan waktu? Apakah ia para eksistensialis? Para penentang absurditas? Atau manusia-manusia paradoks yang menjadikan eksistensi sebagai mode kehidupan?

Dechiperisme menjawab bahwa manusia otentik sejauh ini baru hadir sebagai kemungkinan ontologis semata. Ia belum sungguh-sungguh menjadi secara utuh.

Nietzsche dipandang sebagai figur yang mendekati manusia otentik, tetapi tidak dapat ditiru karena manusia otentik bukanlah mode yang dapat direproduksi.

Demikian pula Albert Camus dengan absurditasnya, yang bagi Dechiperisme menunjukkan keberanian untuk melawan kehampaan hidup.

Untuk menjadi manusia otentik, seseorang harus hidup bersama penderitaan, kehampaan, dan ketidakjelasan alasan hidup itu sendiri. Ia harus melakukan konferensi langsung dengan kehidupannya sendiri tanpa perlindungan ilusi moral maupun sistem sosial.

Dalam pembacaan Dechiperisme, kondisi tersebut baru merupakan peluang untuk menjadi, bukan sungguh-sungguh menjadi ada secara final.

Oleh sebab itu, manusia otentik sejati belum pernah benar-benar hadir di dalam sejarah. Mereka yang mengklaim dirinya sebagai manusia otentik dipandang sebagai tiruan eksistensial yang belum mencapai keberadaan ontologis yang utuh.

Lebih jauh lagi, Dechiperisme menyatakan bahwa politik dan transhistorisitas manusia sesungguhnya hanyalah bayangan struktur yang lemah secara konstruksi.

Material historis yang menopangnya hanyalah lintasan-lintasan sejarah yang dapat dijelaskan melalui rasio historis semata.

Politik, sejarah, dan eksistensi manusia bergerak melalui distorsi historis menuju rekonstruksi dan restrukturisasi sosial-politik yang tidak pernah benar-benar selesai.

“Hanya sampai di situ, hanya sampai di sini, hanya sampai di sana”. Begitulah gerak sejarah yang sangat panjang itu. Manusia politik tidak memedulikannya. Manusia sejarah sering kali hanya menjadi klaim historis.

Sementara manusia otentik tetap menjadi makna ilutif yang belum pernah hadir secara ontologis. Ia hanya muncul sebagai mode eksistensial yang sementara.

Dalam konstruksi Dechiperisme, seluruh pertanyaan mengenai makna hidup pada akhirnya berubah menjadi jebakan filosofis yang tak pernah memperoleh jawaban final. Jika hidup berakhir dengan kematian, lalu apa makna dari seluruh perjuangan manusia itu sendiri?

Manusia politik mati. Manusia sejarah sering mati lebih dini. Manusia otentik pun pada akhirnya hanya meninggalkan mode-mode eksistensialnya saja.

Oleh sebab itu, Dechiperisme memandang transhistorisitas manusia sebagai ruang historis yang hanya dapat dibacakan, tetapi tidak dapat dijadikan pola hidup yang wajib ditiru.

Tidak semua manusia adalah manusia politik, manusia sejarah, ataupun manusia otentik. Sebab ketiganya pasti akan menghadapi situasi batas sosial yang akut, ketika di hadapan mereka terbentang jurang besar tanpa jembatan eksistensial yang pasti.

Dalam pembacaan Dechiperisme, situasi global hari ini telah memasuki fase yang mengerikan: kemarahan manusia politik, kebangkitan manusia sejarah, dan ledakan mode-mode manusia otentik yang dapat memicu peristiwa historis besar.

Donald Trump dibaca sebagai simbol kemarahan manusia politik. Benjamin Netanyahu dibaca sebagai kebangkitan manusia sejarah yang menolak mengakui bahwa sejarah telah berakhir.

Sementara mode-mode manusia otentik yang muncul dalam situasi krisis dapat berubah menjadi pemicu ledakan historis yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Lebih jauh lagi, Dechiperisme melihat bahwa rezim-rezim modern terus memproduksi berbagai persepsi sosial yang membuat manusia percaya kepada narasi bernama keberuntungan. Regulasi dan sistem sosial dipoles seolah-olah substansial, padahal dalam pembacaan Dechiperisme semuanya hanyalah tindakan produktif hegemonistik yang menciptakan ruang-ruang konsentrasi sosial yang lebih terkendali.

Manusia merasa bebas, padahal kesadarannya sedang diarahkan secara sistematis.

Ironinya, politik dan transhistorisitas manusia tetap menjadi motor utama pergerakan dunia sosial manusia. Sejarah terus bergerak tanpa kompromi, dan hanya sejarah sendiri yang pada akhirnya mampu menentukan ke arah mana jalan sejarah itu akan dibuka. ***)

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 12 Mei 2026