Filsafat Sosial Politik
Retaknya Moral Sosial Politik dan Momentum Rekonstruksi Bangsa
Joko Sukmono
Dunia sosial-politik hari ini menghadapi ancaman terhadap eksistensinya sendiri. Berbagai peristiwa mutakhir menunjukkan bahwa moral bangsa Indonesia sedang berada pada posisi esensial yang retak.
Retakan pada tingkat esensi ini bukan sekadar gejala biasa dalam kehidupan berbangsa, melainkan sebuah tanda historis bahwa fondasi moral sosial-politik sedang mengalami guncangan yang serius. Namun justru di dalam keretakan inilah tersembunyi sebuah momentum historis bagi rekonstruksi moral sosial-politik bangsa.
Ruang sosial yang terbuka memberikan peluang bagi bangsa ini untuk meninjau kembali arah dan landasan moral yang selama ini menopang kehidupan nasional.
Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang secara tegas menyatakan kesiapan Indonesia untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel menjadi salah satu pemicu munculnya ketegangan dalam ruang sosial tersebut. Pernyataan politik ini segera memunculkan gelombang protes keras di berbagai lapisan masyarakat Indonesia.
Selama bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun, sebagian besar masyarakat Indonesia membangun cara pandang politik yang cenderung menempatkan Israel sebagai pihak yang harus ditolak. Cara pandang yang telah mengendap lama dalam kesadaran kolektif ini menciptakan kondisi psikologis tertentu di dalam masyarakat.
Kondisi psikologis semacam ini berpotensi menjadi residu politik yang berbahaya. Jika tidak dipahami secara jernih, ia dapat berubah menjadi energi sosial yang mudah tersulut dan bahkan mampu membakar stabilitas kehidupan nasional.
Konflik politik yang berakar pada emosi kolektif sering kali lebih sulit dikendalikan daripada konflik yang lahir dari perbedaan kepentingan rasional.
Namun Dechiperisme memandang situasi sosial-politik seperti ini dari sudut pandang yang berbeda. Ketegangan yang muncul justru dapat dipahami sebagai momentum bagi bangsa Indonesia untuk membaca ulang sejarahnya sendiri. Bangsa ini lahir dari perjuangan panjang melawan kolonialisme.
Dalam perjalanan sejarahnya, Indonesia tidak pernah meminta perlindungan kepada bangsa lain untuk memperoleh kemerdekaannya. Kemerdekaan diraih melalui keberanian historis untuk menentukan nasib sendiri.
Bagi bangsa Indonesia, kemerdekaan bukan sekadar status politik, melainkan harga mati yang tidak dapat ditawar. Kesadaran historis bangsa ini dibangun di atas semangat untuk menolak segala bentuk penjajahan.
Dalam pengalaman sejarahnya, bangsa ini lebih memilih menghadapi kehancuran daripada hidup dalam keadaan tertindas. Bahkan jika harus menjadi tulang belulang atau abu sekalipun, hal itu tidak dipandang lebih buruk daripada menjalani kehidupan sebagai bangsa yang kehilangan martabatnya.
Semangat inilah yang membentuk karakter dasar bangsa Indonesia sebagai bangsa yang menolak tunduk pada dominasi bangsa lain. Oleh karena itu setiap dinamika politik yang muncul dalam hubungan internasional seharusnya dibaca dalam kerangka mempertahankan kedaulatan dan martabat nasional.
Dalam kerangka itu pula Dechiperisme menegaskan bahwa perang bukanlah pilihan pertama bagi bangsa Pancasila. Perang adalah jalan terakhir yang hanya ditempuh ketika eksistensi kedaulatan bangsa benar-benar terancam.
Namun jika keadaan memaksa, bangsa yang lahir dari perjuangan kemerdekaan ini memiliki legitimasi historis untuk melawan segala bentuk imperialisme.
Perang dalam pengertian ini bukan sekadar konflik militer, melainkan perlawanan eksistensial terhadap segala bentuk dominasi yang berusaha mereduksi kemerdekaan dan kedaulatan bangsa.
Dengan demikian, dalam pandangan Dechiperisme, setiap dinamika sosial-politik yang terjadi hari ini seharusnya tidak dilihat semata-mata sebagai krisis, tetapi juga sebagai kesempatan historis bagi bangsa Indonesia untuk memperkuat kembali fondasi moral, politik, dan eksistensialnya sebagai bangsa merdeka. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 17 Maret 2026





