DJOKO SUKMONO: POSTULAT SOSIAL

DJOKO SUKMONO: POSTULAT SOSIAL

 

SURABAYA, SARINAH NEWS, _Postulat Sosial_ adalah fondasi ide atau paradigma besar yang menjadi dasar pemikiran dalam kehidupan sosial.

Postulat ini tidak hanya mengarahkan pola pikir, tetapi juga menjadi landasan bagi lahirnya ide-ide lain. Ia menaungi kerangka berpikir yang memengaruhi cara manusia memahami dan membentuk tatanan sosialnya.

Contoh dari Postulat Sosial adalah Komunisme dan Pancasila:

1. Komunisme: Sebagai postulat sosial, komunisme memberikan kerangka pemikiran yang menekankan penghapusan kepemilikan pribadi atas alat produksi dan pembentukan masyarakat tanpa kelas. Semua ide seperti sosialisme, perjuangan kelas, dan ekonomi terencana berakar pada postulat ini.

2. Pancasila: Di Indonesia, Pancasila menjadi postulat sosial yang menaungi nilai-nilai seperti keadilan sosial, persatuan, dan ketuhanan.

Ia menjadi kerangka fundamental bagi sistem politik, hukum, dan kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

Dalam konteks dialektika, postulat sosial dapat memunculkan tesis, antitesis, dan sintesis dalam kehidupan sosial.

Misalnya, konflik ideologis antara komunisme (tesis) dan kapitalisme (antitesis) melahirkan berbagai sistem politik dan ekonomi hibrida sebagai sintesis, seperti negara kesejahteraan di Skandinavia.

Dialektika dan Materialisme Historis

Hegel menyusun sistem besar yang komprehensif melalui logikanya, tetapi Marx menerapkannya pada sejarah manusia.

Karya seperti Manifesto Komunis dan Das Kapital tidak dapat dipahami tanpa memahami logika Hegel.

Dalam filsafat Hegel, dialektika berfungsi untuk menjelaskan perkembangan ide, sedangkan Marx memindahkan konsep ini ke ranah materi dan hubungan sosial.

Materialisme historis-dialektis menjadi alat untuk memahami bagaimana perubahan sosial terjadi sebagai keniscayaan sejarah.

Postulat sosial seperti komunisme dan kapitalisme menjadi titik awal dialektika sejarah.

Misalnya, dalam revolusi industri, kapitalisme sebagai postulat sosial mendorong inovasi teknologi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga melahirkan antitesis berupa gerakan sosialisme yang menuntut kesetaraan ekonomi.

Idealisme dan Realitas

Idealisme, yang bermula dari filsafat Plato, menggambarkan tujuan hidup yang dianggap ideal, seperti keadilan, kebebasan, dan kesejahteraan.

Plato berpendapat bahwa dunia nyata hanyalah bayangan dari dunia ide yang sempurna.

Dalam konteks sosial, manusia di dunia nyata berusaha mewujudkan nilai-nilai ideal tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Postulat sosial sering kali mengandung unsur idealisme.

Misalnya, Pancasila menekankan keadilan sosial dan persatuan sebagai cita-cita ideal yang harus diwujudkan.

Komunisme, di sisi lain, mengusung gagasan masyarakat tanpa kelas sebagai visi idealnya.

Postulat Sosial: Landasan Perubahan

Postulat Sosial adalah fondasi esensial dalam memandu perubahan sosial. Ia bersifat universal dalam pengaruhnya, tetapi diterjemahkan ke dalam konteks spesifik masyarakat.

Contoh:
1. Kapitalisme sebagai postulat sosial mendasari pola pikir ekonomi yang berbasis pasar bebas, kompetisi, dan kepemilikan pribadi.

Ide-ide seperti neoliberalisme atau globalisasi lahir dari postulat ini.

2. Demokrasi: Sebagai postulat sosial, demokrasi menjadi landasan bagi kebebasan individu, hak asasi manusia, dan pemerintahan yang berdasarkan konsensus rakyat.

Kesimpulan:
Postulat Sosial adalah ide fundamental yang menaungi ide-ide lain, membentuk fondasi cara berpikir dan bertindak dalam masyarakat.

Ia menjadi titik awal dialektika dalam sejarah dan membentuk dinamika sosial manusia.

Dengan memahami postulat sosial, kita dapat mengidentifikasi kerangka dasar yang menggerakkan peradaban dan perubahan sosial.

 

Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 24 February 2025

Author: Dojoko Sukmono
Pengamat dan Filsuf Sosial