Filsafat Sosial Politik
Rezim Kepentingan Global: Eskalasi Geopolitik dan Ilusi Akhir Sejarah
Joko Sukmono
Dunia sosial-politik hari ini tidak sekadar berubah, tetapi memasuki fase ekstrem yang dapat disebut sebagai Rezim Kepentingan Global. Pada fase ini, kepentingan bukan lagi sekadar salah satu unsur dalam politik, melainkan telah menjadi pusat gravitasi yang menentukan arah sejarah.
Rezim ini bergerak secara agresif dengan melakukan eskalasi besar-besaran dalam penguasaan geopolitik dunia. Ia tidak lagi membutuhkan legitimasi moral, tidak lagi bergantung pada narasi ideologis klasik, dan tidak lagi tunduk pada batas-batas etika yang selama ini diklaim sebagai fondasi peradaban.
Babak baru ini menandai runtuhnya model-model lama dalam kehidupan sosial-politik global. Narasi protektoriat, aliansi ideologis, bahkan konstruksi negara-bangsa yang dahulu dianggap sakral kini perlahan-lahan disingkirkan.
Semua itu dibuang ke dalam tong sampah sejarah karena dianggap tidak lagi relevan dengan tuntutan kepentingan global yang semakin brutal dan konkret. Dunia tidak lagi digerakkan oleh pertanyaan “apa yang benar”, tetapi oleh satu pertanyaan tunggal: “siapa yang menguasai”.
Dalam situasi ini, kapitalisme tampil sebagai kekuatan yang mengklaim telah menghentikan hukum dialektika sejarah. Ia menyatakan bahwa sejarah telah berakhir di dalam genggamannya. Klaim ini bukan sekadar retorika filosofis, melainkan diwujudkan dalam praktik geopolitik yang nyata.
Eskalasi global dipercepat secara sistematis untuk memastikan bahwa tidak ada kekuatan lain yang mampu keluar dari orbit dominasi kapitalistik tersebut.
Benturan kepentingan yang keras kini terlihat secara terbuka di berbagai kawasan dunia. Konflik antara Iran dan Israel menjadi salah satu titik paling eksplosif, yang melibatkan secara langsung maupun tidak langsung kekuatan besar seperti Amerika Serikat.
Di Eropa Timur, perang antara Rusia dan Ukraina menciptakan garis demarkasi baru yang membelah kawasan tersebut secara permanen. Di Asia Timur, ketegangan antara Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan terus bergerak dalam logika persaingan strategis.
Sementara itu, Semenanjung Korea tetap berada dalam kondisi terdemarkasi selama lebih dari tujuh dekade antara Korea Utara dan Korea Selatan.
Di kawasan Asia Selatan, India tampil sebagai kekuatan regional yang mulai memainkan peran geopolitik yang semakin tegas. Di Asia Tenggara, Singapura, Filipina, Thailand, dan Papua Nugini membentuk konfigurasi geopolitik yang secara perlahan mengepung Indonesia dari berbagai arah strategis.
Sementara itu, kawasan Timur Tengah tetap menjadi pusat eskalasi permanen, dan Amerika Latin pada dasarnya telah terserap ke dalam orbit kepentingan global yang lebih besar. Afrika, dalam banyak hal, telah menjadi ruang eksploitasi yang nyaris selesai dipetakan dalam logika kepentingan global tersebut.
Dalam perspektif Dechiperisme, eskalasi geopolitik ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia merupakan gerakan yang disengaja, dipercepat untuk memenuhi klaim kapitalisme sebagai subjek tunggal sejarah.
Manifestasinya menyerupai binatang buas yang kelaparan—liar, ekspansif, dan tidak mengenal batas. Namun ini bukan binatang buas yang rapuh. Ia telah dibentuk menjadi kekuatan yang tahan banting, yang mampu menyerap, menyesuaikan, dan bahkan menghancurkan setiap bentuk perlawanan yang tidak memiliki fondasi eksistensial yang kuat.
Rezim Kepentingan Global ini secara terang-terangan mengabaikan nilai-nilai fundamental kemanusiaan. Kebebasan direduksi menjadi kebebasan pasar. Keadilan ditransformasikan menjadi efisiensi distribusi kekuasaan. Kesejahteraan dipersempit menjadi akses terhadap konsumsi.
Tiga prinsip yang selama ini dianggap sebagai dasar peradaban manusia kehilangan makna substantifnya, digantikan oleh logika material yang dingin dan kalkulatif.
Tujuan utama dari rezim ini adalah membangun sebuah kerajaan material di muka bumi. Dalam proyek besar ini, segala bentuk tempelan nilai—baik moral, ideologis, maupun metafisis—dihapuskan karena dianggap sebagai hambatan. Dunia diarahkan menuju satu bentuk tunggal: dominasi kepentingan material yang total.
Namun pada titik inilah Dechiperisme mengajukan keberatannya. Klaim bahwa sejarah telah berakhir tidak pernah benar-benar dapat dibuktikan. Justru pada saat klaim tersebut menguat, Hukum Rasional Sejarah bergerak mencari saluran baru melalui Hukum Rasional Perubahan Sosial.
Benturan-benturan keras yang terjadi hari ini—di Ukraina, di Timur Tengah, di Asia Timur, dan di berbagai kawasan lain—adalah bukti bahwa sejarah belum berhenti. Ia justru sedang bekerja dengan intensitas yang lebih tinggi.
Arus besar ini memang tampak tidak terbendung. Gagasan tentang koeksistensi damai semakin kehilangan relevansi. Sistem-sistem politik lama menjadi usang, bahkan bagi kekuatan kapitalistik itu sendiri. Sistem tersebut telah dibuang sebagai rongsokan sejarah, namun secara ironis masih dipertahankan oleh banyak negara-bangsa yang tidak memiliki keberanian untuk melakukan transformasi eksistensial.
Dalam kondisi seperti ini, banyak negara hanya mampu berteriak tanpa daya. Mereka menyuarakan penolakan, tetapi tidak memiliki kekuatan untuk melawan secara nyata. Perlawanan yang bersifat retoris tidak akan pernah mampu menghentikan arus sejarah yang digerakkan oleh kepentingan global yang konkret.
Namun Dechiperisme menegaskan satu hal yang fundamental: kapitalisme tidak pernah benar-benar mampu mengakhiri sejarah. Sejarah bukan milik satu sistem. Sejarah adalah wasit yang bekerja secara objektif dan tidak dapat dikendalikan sepenuhnya oleh kekuatan manapun. Sejarah adalah hukum perubahan, bukan hukum keabadian.
Kapitalisme, sekuat apapun, pada akhirnya hanya mampu menguasai properti—tanah, sumber daya, dan alat produksi. Ia tidak pernah mampu menguasai manusia secara utuh.
Manusia adalah entitas yang multi-dimensi, kompleks, dan eksistensial. Ia hidup dalam ruang dan waktu dengan kesadaran yang tidak dapat direduksi menjadi sekadar fungsi ekonomi.
Bahkan para aktor kapitalistik itu sendiri tidak berada di luar hukum ini. Mereka tetap berada di dalam arus sejarah yang sama. Mereka dapat menguasai dunia material, tetapi tidak pernah sepenuhnya menguasai makna eksistensi manusia.
Keotentikan manusia inilah yang menjadi batas terakhir dari setiap rezim kepentingan. Selama manusia masih memiliki kesadaran eksistensial, selama itu pula sejarah akan terus bergerak.
Dan selama sejarah masih bergerak, maka setiap klaim tentang “akhir sejarah” tidak lebih dari ilusi yang dipaksakan oleh kekuatan yang sedang berada di puncak kekuasaannya. ***)
Posted: sarinahnews.com
Surabaya, 18 Maret 2026





