Puisi:
MINADZDZUULUUMATI ILANNUR
Oleh Ganjar Kurnia
Seperti janji dunia yang ditangguhkan,
di balik jendela berukir,
cahaya hanya masuk separuh
Harum tak selalu Merdeka
Lelah menjadi hiasan yang hanya dikagumi,
bukan difahami
Ia pun menggugat!
Matanya menyimpan luka warisan
Baginya, ucapan “dunia bukan milik perempuan”
adalah kalung emas yang memborgol leher,
adat dari struktur tak adil,
pelanggengan peran melalui mitos,
menyucikan ketimpangan atas nama harmoni
dan kodrat rekayasa sejarah
yang memproduksi ketundukan melalui budaya
Perempuan bukanlah pelengkap narasi,
tapi subjek penyusun bab demi bab kehidupan
dengan darah dan nalar mereka sendiri.
Berpikir dan menulis
adalah salah satu bentuk dari ibadah
Dari celah-celah rumah yang mirip penjara,
ia lemparkan surat kepada dunia—
berisi luka berbentuk Impian:
“habis gelap terbitlah terang”
Reposted: sarinahnews.com
21 April 2025
Note:
Pusi ini ditulis tanpa ada ketedangan tempat
Minadz dzulumati ila nur” artinya “dari kegelapan menuju cahaya”. Ungkapan ini sering digunakan untuk menggambarkan proses perubahan atau transformasi seseorang dari keadaan yang negatif, kelam, atau tidak baik, menuju keadaan yang positif, terang, atau lebih baik.
https://quran.nu.or.id/al-baqarah/257
Ditulis oleh Prof. Dr. Ganjar Kurnia adalah Rektor Universitas Pajajaran Bandung masa bakti 2007-2015. Pernah menjadi Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Paris.
Puisi Ganjar Kurnia https://inharmonia.id/index.php/opini/opini/puisi-ganjar-kurnia-202504220355





